Ini pusaka ku, mana pusakamu???


keris...

keris...

Beberapa waktu yang lalu, saya ngobrol-ngobrol dengan, yah bisa dibilang,sesepuh desa. Obrolan kami pun sempat menyerempet terhadap berbagai benda pusaka. Mulai dari keris, tombak, hingga batu akik. Tak lupa pula, ritual memandikan benda-benda pusaka tersebut juga di bahas.

terus terang, saya sama sekali buta akan dunia per-pusaka-an. jadi hanya bisa, ‘angguk-angguk dan geleng-geleng’ saja.

ritual memandikan pusaka

Orang jaman dulu, sering memandikan benda-benda pusaka yang dimilikinya, terutama di malam satu suro. Benda pusaka tersebut di cuci dengan menggunakan air bunga tujuh rupa atau ada juga yang menggunakan jeruk nipis.

Menurut dia, ritual memandikan benda pusaka ini bertujuan untuk memberi makan ‘penunggu’ benda pusaka tersebut.

masih menurut dia, bahwa setiap benda pusaka memiliki ‘penunggu’ dan setiap ‘penunggu’ memiliki keahlian masing-masing. Misalnya, ada keris yang berfungsi untuk menawarkan racun hewan berbisa, ada pula keris yang dapat mematikan musuh hanya dengan menggoresnya, dan lain sebagaimya.

Namun, menurut saya, ritual tersebut sebenarnya bertujuan untuk menghormati (ingat menghormati loh, bukan memuja/menyembah) benda tersebut. Mengapa demikian??? Karena eh karena, sang pemilik  telah merasakan manfaatnya. Misalnya untuk menyembuhkan gigitan hewan berbisa, melindungi dari musuh, dsb. Inilah yang menyebabkan pusaka tersebut harus di hormati dan diwujudkan dalam prosesi ‘mandi’, cmiiw.

Itu dulu…

sekarang bagaimana???!

Perlu saya akui, bahwa masih ada yang memegang teguh tradisi tersebut walaupun tidak semuanya.

Jaman telah bergeser, perubahan pasti ada. Misalnya awalnya yang dihormati sebagai benda pusaka hanya keris. Setelah ditemukannya meriam, maka meriam pun di hormati sebagai benda pusaka. Setelah itu senjata api juga di hormati. Hal ini sangatlah wajar. Ingatlah bahwa yang abadi di dunia ini hanyalah perubahan.

Saat ini, apa yang bisa kita jadikan benda pusaka???

Jawabannya gampang. Menurut saya, menilik dari fungsinya, sepeda motor sangat layak jika kita perlakukan sebagai benda pusaka. Sepeda motor bukan hanya sarana transportasi, ataupun gaya hidup tapi setiap harinya kita rasakan manfaatnya. Mulai dari belanja di pasar, pergi ke kantor, dan sarana ngabuburit (hehehe karena sekarang bulan puasa).

Jika kita tidak menghormati sepeda motor milik kita, apa yang akan terjadi?? misalnya mogok, ban kempes, dsb.

kalau begitu bagaimana cara kita ‘menghormati’ sepeda motor kita??? Ada beberapa ritual yang wajib kita lakukan, diantaranya:

1. Memandikan motor setidaknya seminggu sekali

2. Servis rutin

3. Pergantian oli secara berkala

4. Senantiasa memeriksa tekanan angin pada ban

5. Memeriksa rem, dsb

Nah jika ritual di atas kita sering lakukan, maka kita akan meminimalisir hal-hal yang tidak kita inginkan. Mogok, ban kempes, kecelakaan karena rem blong, kecelakaan karena ban kempes, dsb bisa kita minimalisir.

Ini pusaka ku, mana pusaka mu??!

Ritual memandikan pusaka...

Iklan

9 Responses to Ini pusaka ku, mana pusakamu???

  1. willykk berkata:

    jangan lupa dikasih PreeetAmattt wakWak 😆

    Suka

Silahkan Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: