Filosofi Rel Kereta api dan Penentuan 1 Syawal


Hmmm……

miris emang…

Jika kondisinya seperti ini terus, maka selamanya kita akan kalah.

Eh… apaan sich??!

Perbedaan hari tanggal 1 syawal 1432H.

Sederhana emang. Tapi ini cukup menjadi bukti bahwa sampai detik ini, muslim belum bersatu.

Indonesia walaupun bukan negara muslim tapi memiliki jumlah pemeluk Agama Islam terbesar sedunia. 80% lebih penduduknya memeluk agama Islam (sesuai KTP loh). Karena banyak inilah kita menjadi lupa, kita menjadi terlalu percaya diri, sehingga kita lengah.

Dengan jumlah yang sangat besar, maka bisa dipastikan akan banyak pula aliran-aliran dalam Islam. Semakin banyak aliran, maka semakin banyak perbedaan.

Tidak ada yang salah dengan perbedaan itu, selama kita masih bisa bersatu. Lah, bagaimana akan bersatu, lawong untuk penentuan 1 syawal aja banyak perbedaan. Ada yang hari ini, ada yang besok dan ada yang lusa.

Hargailah perbedaan. Jargon itulah yang sering di gembar-gemborkan. tapi, sampai kapan kita akan bearbeda???! boleh saja berbeda selama kita bisa hidup berdampingan seperti ‘rel kereta ap’i.

Filosofi ‘rel kereta api’ mengajarkan kita untuk hidup berdampingan, saling mengisi. Kita tahu seperti apa rel. rel kereta api terdiri dari 2 balok besi yang di pasang sejajar dan setiap sekian meter diberi palang. rel kereta api itu, tidak pernah menyatu dan tidak pernah berpisah. Lah, kalo rela sampai berpisah maka kereta api akan celaka. Sama halnya jika kereta api menyatu, kereta api juga celaka.

Kita belum bisa untuk itu. Sejarah telah membuktikan, bahwa muslim Indonesia belum bisa untuk seperti ‘rel kereta api’. Antar aliran masih sering bentrok, biasanya dimulai dengan perselisihan pendapat, akhirnya merembet ke masalah lainnya bahkan bisa-bisa muncul bentrok fisik.

Langkah pertama dan utama adalah pemerintah harus bertindak tegas. Ingat tegas loh, bukan berarti semena-mena. Jika pemerintah sudah bisa tegas, insyaallah kita bisa seperti ‘rel kereta api’.

Langkah yang kedua adalah, setiap aliran harus legowo, tidak memaksakan kehendak, tidak mencampuradukkan kepetingan umat, kelompok dan pribadi. Setiap aliran harus mampu menekan ego masing-masing. Kondisi sekarang adalah setiap aliran sama-sama menonjolkan ego masing-masing.

Langkah ketiga adalah pemerintah harus mampu menjadi pihak netral.

Jika setidaknya beberapa hal tersebut bisa dilakukan, maka insyaallah kita akan bisa hidup seperti ‘rel kereta api’.

 

PERBEDAAN ITU INDAH, NAMUN JAUH LEBIH INDAH PERSATUAN!!!

Iklan

3 Responses to Filosofi Rel Kereta api dan Penentuan 1 Syawal

  1. Rainbow berkata:

    soalnya umat islam itu masih mengikuti filosofi kereta api. kereta eksekutif dan bisnis diberi jalan oleh kereta ekonomi. kalo gak ngalah, pasti bakal bentrok… :mrgreen:

    Suka

  2. Darmawan berkata:

    naik kereta api tut tut s7 kang

    Suka

Silahkan Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: