30 September Penuh Makna: 500.000 jiwa dibantai?! #2


Hampir semua buku yang ada saat ini baik terbitan pemerintah (baca:militer)
maupun terbitan para akademisi memaparkan hal yang serupa. Kesamaannya adalah pada saat penculikan, yang terlibat, hampir semuanya, adalah orang-orang militer. Sebut saja Untung. Letkol Untung bin Syamsuri, tokoh kunci Gerakan 30 September 1965 adalah salah satu lulusan terbaik Akmil. Pada masa pendidikan ia bersaing dengan Benny Moerdani, perwira muda yang sangat menonjol dalam lingkup RPKAD (kelak Benny Moerdani menjadi tokoh legendaris dalam Misteri Tragedi Tanjung Priok). Mereka berdua sama-sama bertugas dalam operasi perebutan Irian Barat dan Untung merupakan
salah satu anak buah Soeharto yang dipercaya menjadi Panglima Mandala.

Sebelum ditarik ke Resimen Cakrabirawa, Untung pernah menjadi Komandan
Batalyon 545/Banteng Raiders yang berbasis di Srondol, Semarang. Batalyon ini memiliki kualitas dan tingkat legenda yang setara dengan Yonif Linud 330/Kujang dan Yonif Linud 328/Kujang II. Kelak dalam peristiwa G 30 S ini, Banteng Raiders akan berhadapan dengan pasukan elite RPKAD dibawah komando Sarwo Edhie Wibowo.

Setelah G 30 S 1965 meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri
dan menghilang beberapa bulan lamanya sebelum kemudian ia tertangkap secara tidak sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. Ketika tertangkap, ia tidak mengaku bernama Untung. Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G 30 S 1965.
Setelah mengalami pemeriksaan di markas CPM Tegal, barulah diketahui bahwa yang bersangkutan bernama Untung. Setelah melalui sidang Mahmilub yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1969.

Bagi Soeharto, Untung bukanlah orang lain. Hubungan keduanya cukup erat
apalagi dulunya Soeharto pernah menjadi atasan Untung di Kodam Diponegoro. Indikasi kedekatan tersebut terlihat pada resepsi pernikahan Untung yang dihadiri oleh Soeharto beserta Ny. Tien Soeharto. Pernikahan tersebut berlangsung di Kebumen beberapa bulan sebelum G 30 S 1965 meletus. Kedatangan Komandan pada resepsi pernikahan anak buahnya adalah hal yang jamak, yang tidak jamak adalah tampak ada hal khusus yang mendorong Soeharto dan istrinya hadir pada pernikahan tersebut mengingat jarak Jakarta – Kebumen bukanlah jarak yang dekat belum lagi ditambah pada masa tahun 1965 sarana transportasi sangatlah sulit. Selain Untung yang ikut terlibat dalam petualangan tersebut adalah Omar Dhani, Brigjen Pol. Sutarto serta Kol. Latief.

Mereka semuanya adalah orang-orang militer. Jumlah korban dalam tragedi paska G 30 S 1965 berjumlah sekitar 500.000 jiwa (Sulistyo, 2000:42). Sedangkan versi AD jumlah korban terbunuh diseluruh Indonesia 78.000 jiwa. Dari jumlah itu, berarti bangsa kita jauh lebih kejam daripada Nazi dengan Camp Konsentrasinya dan Khmer Merah. Nazi untuk membunuh memerlukan waktu
bertahun-tahun dan Khmer Merah melakukannya dalam tempo 4 tahun sedangkan kita hanya memerlukan waktu beberapa bulan (Adam, 2004:34). Kebanyakan algojo dari pembantaian tersebut adalah umat Islam/Ansor. Mereka berpendapat bahwa apa yang mereka lakukan adalah jihad.

Militer sangat berperan dalam pembantaian tersebut. Cara yang dilakukan oleh
militer untuk menggerakkan dan meluapkan kebenciaanya terhadap orang-orang PKI adalah salah satunya dengan memanfaatkan media massa. Surat kabar Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata yang boleh terbit pada saat itu sehingga sumber wacana masyarakat hanya satu yaitu militer sehingga semakin menumbuhkan rasa kebencianya terhadap PKI. Selain itu, menurut PKI pembunuhan tersebut adalah hasil dari:

Perintah-perintah yang dikeluarkan oleh Jenderal Nasution
yang dapat ditafsirkan sangat luas, yang kurang lebih
memerintahkan untuk membasmi kaum komunis hingga ke
akar-akarnya, dan harus diambil tindakan terhadap siapa pun
yang dicurigai terlibat langsung maupun tidak langsung dalam
Gerakan 30 September. Berdasarkan perintah-perintah inilah
pembunuhan massal dilakukan. Apakah pengadilan sependapat
dengan saya, bahwa Jenderal  Nasution harus bertanggung
jawab dalam pembunuhan massal ini? (Sulistyo, 2000:42).

Pak Nasution yang pada saat penculikan berhasil menyelamatkan diri, langsung
menuju ke MBAD dan bersama-sama dengan Pak Harto menyusun rencana penumpasan para petualang G 30 S 1965. Tindakan yang diambil oleh mereka masih merupakan teka-teki, apakah tindakan mereka merupakan aksi untuk membungkam para pesaingnya (PKI)? ataukah merupakan aksi untuk cuci tangan atas keterlibatan mereka?. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul, perlu untuk diteliti lebih lanjut agar sejarah Indonesia yang sedikit bengkok bisa di luruskan sedikit.

Sumber:

Adam, Asvi Warman. 2004. Soeharto Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Ombak.

Dwipayana, G & Ramadhan KH. 1989.Soeharto: Pikiran, Ucapan dan tindakan Saya, cetakan II. Jakarta: Citra Lamtoro Gung Persada.

Markas Besar ABRI. 1996. Bahaya Laten Komunisme di Indonesia, jilid IV, cetakan III. Jakarta: Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI.

Markas Besar ABRI. 1996. Bahaya Laten Komunisme di Indonesia, jilid V, cetakan III. Jakarta: Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI.

Sekretariat Negara RI. 1994. Gerakan 30 September, Pemberontakan Partai Komunis Indonesia. Jakarta, Sekretariat Negara RI.

Sulistyo, Hermawan. 2000. Palu Arit di Ladang Tebu, cetakan III. Jakarta: KPG.

Soerojo, Soegarso. 1988. Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai; G 30 S-PKI dan Peran Bung Karno, cetakan IV. Jakarta: PT Intermasa.

Team Dokumentasi Presiden RI, (ed) Dwipayana. 1991. Jejak Langkah Pak Harto: 1 Oktober 1965-27 Maret 1968, cetakan VII. Jakarta: Citra Lamtoro Gung Persada.

Artikel terkait:

  1. https://ulidblog.wordpress.com/2011/09/30/30-september-penuh-makna-pengantar/
  2. https://ulidblog.wordpress.com/2011/10/01/30-september-penuh-makna-dibalik-semua-pembantaian-itu/
  3. https://ulidblog.wordpress.com/2011/10/01/30-september-penuh-makna-jalannya-gerakan/
  4. https://ulidblog.wordpress.com/2011/10/01/30-september-penuh-makna-500-000-jiwa-dibantai-1/
Iklan

7 Responses to 30 September Penuh Makna: 500.000 jiwa dibantai?! #2

  1. akibdg berkata:

    nice artikel pak guru…:)

    Suka

  2. tijok berkata:

    sejarah juga bisa dilihat sbg alat kontrol kekuasaan, hegemoni.
    nice article mas

    Suka

  3. […] Indonesia juga pernah mengalami tragedi kemanusiaan yang amat sangat … (kang_ulid speechless). Ribuan bahkan jutaan orang dibantai tanpa sebab yang jelas. Jutaan lainnya di penjara puluhan tahun tanpa melalui proses pengadilan. Bahkan anak-cucu mereka tidak diberi ruang yang pantas di Indonesiaku ini (tulisan klik di sini n di sini). […]

    Suka

Silahkan Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: