Oleh-oleh Workshop: 1 Tilang = 1 Pasal….


Hmmm….

Sudah lama tidak nulis. Kesibukan sebagai seoarang Pendidik memaksa untuk rehat sejenak. Dan akhirnya ada juga kesempatan tuk nulis kembali. Hore..!

Selama 2 hari kemarin (2-3 Nop 2011), kang_ulid mendampingi anak OSIS ikut workshop pembinanan manajemen OSIS. Hari pertama, masih kacau. Beberapa pemateri mendadak membatalkan diri. Akhirnya, materi hari pertama diisi oleh penyuluhan akan bahaya narkoba. Materi menarik, namun sayang pembawa materinya kurang bisa membawa suasana, boring jadinya.

Hari kedua, sesuai jadwal, materinya adalah tentang disiplin berlalu lintas. Waw, menarik nich. Moga pematerinya lebih assseeekkk lagi.

Setelah ditunggu (lebih tepatnya pemateri yang menunggu peserta, hehehe) akhirnya sesi pertama pada hari kedua dimulai yaitu tentang disiplin berlalu lintas. Pemateri mencoba untuk memberikan gambaran umum kepada peserta (kebanyakan adalah siswa) tentang kondisi situbondo.

Secara umum, situbondo dilintasi oleh jalur pantura. Membentang dari Kecamatan Banyuglugur hingga Banyuputih, dengan panjang 150km. Waw… panjang banget!!!. Dengan panjang jalan yang sangat panjang (mbulet.com), hanya  dijaga oleh 108 polisi lalu lintas. Berarti, 1 orang Polantas, mengamankan 1,39 km. Waw cukup panjang.

Pemateri juga mengenalkan tentang UU No. 22 tahun 2011 kepada siswa. Diharapkan, siswa-siswa yang mengikuti workshop ini dapat memberikan informasi kepada siswa lain di sekolah agar bisa menerapkan disiplin berlalu lintas.

Banyak hal yang disoroti. Mulai aksi ugal-ugalan di jalan, balap liar, pemakaian knalpot berisik, pencopotan spion yang di lakukan oleh siswa kebanyakan. Ini menyalahi UU No. 22 Tahun 2011. O iya… terkait tilang, sebenarnya 1 tilang = 1 pasal. Maksudnya, seberapa pun banyaknya kesalahan kita, di surat tilang hanya di baca 1 pasal pelanggaran dan diambil yang terberat. Jadi, bukan akumulasi pelanggaran loh. Contohnya, seorang pengendara ditangkap polisi karena tidak memakai helm, motor tidak berspion, memakai knalpot berisik dan memakai ban dibawah standard. Walaupun dalam surat tilang di tulis 4 pasal pelanggaran, namun tetap saja oleh hakim akan di cari 1 pasal pelanggaran terberat. Kemudian, didasari  oleh pasal inilah, pak hakim memutuskan berapa denda yang akan diberikan.

So, jangan mau dikibulin oleh Polisi. Biasanya, polisi akan menjumlahkan semua pelanggaran hingga didapat nominal sekian. Kemudian, berdasarkan nominal inilah, polisi dan si pelanggar akan melakukan proses tawar menawar ‘harga pas tancap gas’.

STOP PEMBODOHAN OTOMOTIF… Jangan mau di tipu oleh oknum Polisi. Mari kita wujudkan masyarakat Indonesia yang melek hukum.

Sampai disini, bersambung ya….

Iklan

5 Responses to Oleh-oleh Workshop: 1 Tilang = 1 Pasal….

  1. about_blank berkata:

    yang bodoh itu ya yg tawar menawar d jalan…usul buat yg punya warung: jgn ngarahin bahwa harga tawar menawar itu harusnya 1 pasal saja, tp diarahkan jgn mau tawar menawar…jd yg bener bayar denda k negara(sidang, transfer k bank,dll). Salam kenal kang

    Suka

Silahkan Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: