Oleh-oleh workshop: Knalpot, Denda & Lakalantas


Hmmm… Melanjutkan oleh-oleh dari workshop nich. Di sini, kang_ulid akan menampilkan beberapa adegan cuplikan tanya-jawab, antara peserta dengan pemateri. Sesi tanya-jawab ini sangatlah hidup. Para peserta sangat sangat sangat antusias untuk bertanya. Kebanyakan menanyakan tentang hal-hal yang pernah mereka alami, terutama pengalaman di tilang polisi. Saking antusiasnya, ketika waktu habis pun masih banyak peserta yang mengacungkan tangan untuk bertanya.Dari pada bertele-tele, yuk kita simak cuplikan sesi tanya-jawab, yang berhasil kang_ulid himpun…

(?) Menurut UU No. 22 tahun 2011, pamakaian knalpot berisik dilarang, tapi mengapa knalpot berisik masih di jual bebas di pasaran?

(-) Begini… ada beberapa permasalahan yang dihadapi pihak kepolisian, yakni pabrik knalpot tersebut mempunyai ijin resmi, begitu juga tokonya. Oleh karena itu, saat ini satlantas Situbondo terus berkoordinasi dengan desperindag Situbondo agar barang tersebut (knalpot berisik) tidak di jual bebas di pasaran. Selain itu, kitalah yang wajib memilih dan memilah, mana yang menyalahi aturan, mana yang tidak. Knalpot berisik mennyalahi aturan, jangan dibeli donk!   (?) Uang denda kemana? (-) Uang hasil denda dikembalikan ke negara.Kecuali yang tidak ada surat tilangnya, itu berarti masuk kantong. Oelh karena itu, jika kalian melakuakn kesalahan, cukup satu pernyataan yaitu ‘saya mau ditilang aja pak!’, maka si polisi tidak akan menawar lagi. Jika kalian tidak punya kesempatan untuk bersidang, maka sah hukumnya menggunakan jasa TITIP SIDANG. Di situbondo Rp 40.000 untuk titip sidang. Ini tidak menyalahi aturan dan uang hasil titip sidang juga akan dikembalikan ke negara. Ingat titip sidang harus pula ada surat tilang loh.   (?) Mengapa jika terjadi laka lantas yang melibatkan R2 dan R4, maka R4 selalu salah? (-) Di kepolisian tidak seperti itu. Semua tergantung hasil penyidikan di lapangan. Jika hasil penyidikan menyatakan bahwa R2 yang salah maka R2 salah. Namun, terus terang kami juga kesulitan untuk men-sosialisasikan ini. karena mindset di masyarakat belum bisa berubah. Mindset masyarakat menyatakan bahwa R2 lawan R4, maka R4 yang salah apapun alasannya. Contoh kasus, di Situbondo beberapa waktu yang lalu terjadi tabrakan antara Ninja 250 dengan mobil panther. Kecelakaan ini menyebabkan pengendara Ninja250 tewas seketika. Hasil penyidikan di lapangan menyatakan bahwa pengendara Ninja250 yang salah. karena tersangka (pengendara Ninja250) telah tewas, maka pihak kepolisian telah mengeluarkan SP3. Namun, keluarga pengendara ninja250 tidak terima. mereka tetap berkeyakinan bahwa pengemudi panther lah yang salah. Bahkan telah melaporkan kasus ini ke tingkat provinsi. Kami (polres situbondo) yang bingung. Sampai saat ini, kasusnya masih terus berlanjut. Sekali lagi saya tegaskan, bahwa semua tergantung hasil penyidikan di lapangan.   Itu sudah…! cukup tiga saja to, hehehhe… Sebenarnya dalam sesi tanya-jawab ini, kang_ulid ingin bertanya, namun karena waktu yang tidak memungkinkan akhirnya dengan sangat kecewa tetap kang_ulid simpan. pertanyaan yang ingin diajukan adalah (1) sebenarnya knalpot yang seperti apakah yang  dilarang oleh UU No. 22 tahun 2011? Knalpot berisik atau knalpot racing atau knalpot tidak standard? (2) di lapangan, rata-rata polisi masih memukul rata tentang pemakaian knalpot, pokoknya tidak standard, di tilang. Padahal menurut pemahaman saya, di dalam UU No. 22 tahun 2011 yang dilarang adalah knalpot berisik. Dan seharusnyalah, setiap polisi dibekali dengan desibelmeter (alat ukur kebisingan). Bagaimana menurut anda? Yup… dua pertanyaan itulah yang ingin kang_ulid lontarkan. Ada yang bisa membantu??

 

*Ini di Situbondo jawa timur loh, bisa berbeda di daerah lainnya

Iklan

14 Responses to Oleh-oleh workshop: Knalpot, Denda & Lakalantas

  1. B M W ♣ berkata:

    Hmmmmm keren

    Suka

  2. ipanase berkata:

    asekkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk

    Suka

  3. cafebiker berkata:

    manteb mas…

    Suka

  4. kodokkodok berkata:

    harusnya :
    1. ada standar db yang dikategorikan “aman” bagi kuping, dan diterapkan bukan cuma ngendog jadi uu semata
    2. tiap personel punya dbmeter yang seragam, di android lumayan lengkap variannya, dan untuk versi berbayar (<100ribu) kalibrasinya hampir menyerupai dbmeter asli. hp android sekarang kan murah2 tuh, mbok ya diberdayakan teknologi & modal yang ada.

    Suka

  5. #99 bro berkata:

    jd UU itu bisa berubah di lain tempat..

    Suka

    • kang_ulid berkata:

      UUnya sama, tapi kebijakan tiap daerah bisa beda, misalnya d situbondo tdk menyalakan lampu d siang hari blum d tilang, karna msh menggunakan tindakan persuasif

      Suka

  6. Hourex150L berkata:

    Kriteria “BRISIK / GAK” nya gimana Mas..?? menurut Undang2 ada ambang batas tertentu setiap kubikasi mesin misal 150cc – 200cc di batasi 90bd.. Nah Kira_kira Kepolisian kita memiliki alat ukur kebisingan ini gak.. kan sensitifitas telinga kita berbeda-beda.. apakah menentukan ambang bising cuma dengan FEELING doang..?? 😀

    Suka

    • kang_ulid berkata:

      ya itulah yang masih rancu… daripada saya menggunakan istilah ‘knalpot racing’ yg belum tentu berisik atau apalagi saya menggunakan istilah ‘knalpot non standard’ lebih parah lagi tuh… oleh karene itu, saya lebih suka menggunakan istilah ‘knalpot berisik’. Mengenai ambang batas, sebenarnya menteri lingkungan hidup (apa menteri kesehatan ya) sudah mengeluarkan peraturannya, beberapa hari sebelum UU No. 22 Th 2011 di sahkan, cmiiw.

      yup yang repot kalo polisinya hanya menggunakan feeling… apalagi meng-‘gebyak-uyah’ pokoknya non standard di tilang…

      Suka

  7. azizyhoree berkata:

    sip oleh2 e 😛

    Suka

  8. bimo96 berkata:

    nambah ilmu ne

    Suka

Silahkan Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: