Touring D’wali Songo, etape terakhir: Start The engine, Burn The Road


Hmmm…

Perjalanan terus berlanjut… (sebelumnya lihat di sini)

Hotel mera-putih

Lumayanlah dapat tempat istirahat di sebuah SPBU. Jam 04.00 WIB tanggal 26 Desember 2011, kang_ulid terbangun dan mulai prepare. Mandi, ngopi, gulung matras dan sekitar jam 05.30 WIB, perjalanan terus berlanjut. Start the engine, burn the road.

Perjalanan terus berlanjut dari waktu ke waktu… (soundtrack kartun Sinbad).

Subhanallah, pemandangan pagi di jalur Tegal – Cirebon benar-benar indah. Langit luas dengan beberapa ukiran awan di sana, apalagi ditambah semburat fajar yang baru menyingsing. Sungguh pemandangan yang sangat sangat indah.

Tak terasa sudah sampai di perbatasan Jawa Tenga – Jawa Barat.

Perbatasan Jateng-jabarfkan

Waktu telah menunjukkan pukul 07.00 WIB ketika saya memasuki daerah Cirebon. Hore… sebentar lagi kang_ulid akan mengunjungi makam Sunan Gunung Jati dan mengakhiri rangkaian Touring D’wali Songo.

Kembali GPC kang_ulid aktifkan. Sempat bingung di kota Cirebon, beruntung tanpa sengaja bertemu dengan anngota BMC Corebon. Menepi kemudian ngobrol bentar, akhirnya di antarkan sampai pertigaan, kanan ke Sunan Gunung jati, sedangkan dia ke kiri menuju kantornya. Trims bro, moga diberi yang terbaik oleh Allah, amin!

Sekitar jam 08.00 WIB saya memasuki kompleks makam. Sebelum memasuki, saya di wanti-wanti oleh penduduk sekitar bahwa di sana banyak preman yang berkedok tour guide dan biasanya meminta imbalan yang sangat banyak. OK! kang_ulid sudah menyiapkan mental. Muter-muter sebentar nyari tempat parkir, eh ga’ taunya ga’ ada parkir khusus (sayang tempat wisata religir tapi ga punya tempat parkir).

Akhirnya, si ge_black kang_ulid parkir di depan sebuah warung. Toleh kanan-kiri suasana makam masih sepi, enaknya sarapan + ngopi dulu, mantabbbbb! Kang_ulid tertarik pada salah satu menu yaitu NASI LENGKO. Hmmm, yummi… wisata kuliner lagi nich. Tapi betapa kecewanya ketika tau bahwa nasinya belum matang. Ngopi dulu ah…

Sembari menunggu, kang_ulid mencoba me-refleksikan perjalanan selama 3 hari ini, dan untuk apa kang_ulid melakukan ini semua. Tak terasa meneteslah air mata (ini di warung loh, untung sedang sepi, heheheh). Apalagi ketika mengingat bahwa sebentar lagi tuntaslah nazar yang selama 1 tahun lebih masih pending. Pada titik ini, kang_ulid benar-benar merasa dekat dengan Sang Ilahi, benar-benar merasa dilindungi, benar-benar merasa diberi yang terbaik. Kang_ulid tersadar bahwa selama ini kurang menunjukkan rasa bersyukur, masih sering lupa kepada-Nya. Dada makin berdegup kencang, seakan-akan ingin melompat keluar, air mata menetes tak terbendung, mulut tak mampu berucap lagi, yang keluar hanya kata-kata Subhanallah walhamdulillahi wa lailahaillahu Allahu akbar! kata ini yang kang_ulid ucapkan.

Satu jam berlalu dan belum ada tanda-tanda makanan yang dipesan datang, kang_ulid putuskan untuk masuk ke makam terlebih dahulu. Benar kata penduduk, preman-preman berkedok tour gude dan pengelola makam sudah menunggu. Sempat adu mulut dengan mereka, karena tidak ingin ribut akhirnya kang_ulid memasukkan uang ke kotak yang bertuliskan ‘untuk perbaikan’.

Ingat! bagi calon pengunjung makam Sunan Gunung Jati jangan terkecoh dengan yang kayak ginian. Posisi mereka ada di depan, setelah pintu gerbang makam. Jangan terkecoh! mereka bukan pengelola makam. Pengelola asli ada di dalam.

Seperti biasa, kang_ulid langsung memasuki cungkup makam Sunan Gunung Jati. Berdoa sejenak. “Ya Allah, puji syukur hamba haturkan, karena telah diberi kesempatan untuk menunaikan dan menyelesaikan nazarku ini. Ya Allah, berilah yang terbaik. Amin!

cungkup makam Sunan Gunung Jati

Selama berdoa, kang_ulid terusik oleh suara bising pejiarah. Menurut penilaian subjektif, terdapat perbedaan yang sangat kental antara suasana makam sunan di jateng – jatim dengan di Cirebon. Di sini (Cirebon) kesakralan tempat ini tidak begitu terasa. Semuanya asik mengobrol. Jangankan pengunjung, pengelola makam pun juga ikut bersenda gurau. Sangat disayangkan memang. Hal ini diperparah dengan adanya preman yang berkeliaran di sekitar makam. Wajib diperbaiki nich.

Selesai  berdoa, kang_ulid kembali ke warung tempat memesan makan sekaligus menitipkan barang. Harapan tinggal harapan, nasi lengko yang dipesan tidak jua datang. Pukul 10.00 WIB akhirnya datang juga makanan pesanan. Sip, langsung santap habisss!!!

Nasi Lengko

Selesai makan, langsung prepare tuk melanjutkan perjalanan. 

Kemana? Balik pulang ke Situbo Jatim atau kemana? Kang_ulid putuskan untuk mampir sebentar ke adik ipar yaitu di daerah Cilegon Banten (kayaknya bukan mampir dach, heheheh). Kembali, start the engine, burn the road.

Jalur yang dipilih adalah Cirebon – Indramayu – Cikarang – Bekasi – Jakarta – Tangerang – serang – Cilegon. Jalur Cirebon – Indramayu wow fantastis, lebar dan sepi menggoda iman

di suatu tempat...

untuk membetot gas dalam-dalam. Keinginan ini sangat kuat, namun kang_ulid berhasil meredam karena ingat bahwa perjalanan masih jauh serta anak-istri menunggu di rumah. Keluar dari Indramayu kembali hujan membasahi bumi. Hujan terus mengguyur hingga memasuki Cikarang. Sebelum Kota Cikarang, karena hujan telah reda, lepas mantel wajib dilakukan agar tidak diduga makhluk alien, heheheh.

Memasuki kota Cikarang, kang_ulid semmpat tertahan oleh konvoi motor n mobil. Katanya sich konvoi genk motor, katanya loh. Sembari menunggu, kontak dengan temen-temen Xtreme di Bekasi kembali dilakukan. Katanya Cikarang – Bekasi lumayan jauh, sekitar 1 jam. Begitu konvoi selesai, perjalanan dilanjutkan kembali. Berhubung katanya Bekasi masih jauh, ya pelan-pelan saja, menikmati Cikarang. Namun, tiba-tiba terlihat tulisan “Selamat Datang di Kota Bekasi”. Loh, katanya masih jauh, tapi baru berjalan beberapa menit kok udah nyampe Bekasi. Ya udah, kang_ulid menepi pas di bawah tulisan itu, agar anak Xtreme Bekasi (Xcyber) mudah menemukan lokasinya.

istirahat dulu ah...

Kontak dengan bro Akbar, n bro Dika terus dilakukan. Kemudian bro Bob juga menghubungi, ga’ taunya dia yang diberi tugas melakukan penjemputan karena lokasinya terdekat. Akhirnya bro Bob menentukan meet point yaitu di salah satu mall di Bekasi (lupa namanya, heheh). waduh, dimana itu? kang_ulid benar-benar tidak tau lokasi. Pertolongan Allah muncul. Tiba-tiba ada pengendara vixion menepi, menyapa n berkenalan. Bro Ardi, anak Vixion (lupa nama club-nya). Setelah ngobrol sebentar, dia menawarkan untuk mengantarkan ke tempat meet point. TRIMAKASIH!!!!

Rangkaian Touring D’wali Songo telah selasai, sekarang berganti menjadi Touring the Java Island, hehe

To be continued…

*Terlalu lama berkendara menyebabkan konsentrasi berkurang, lupa, dsb

Rute Perjalanan

Iklan

10 Responses to Touring D’wali Songo, etape terakhir: Start The engine, Burn The Road

  1. sayange ra sempet ketemuan yo

    Suka

  2. mas wahyu berkata:

    Maaf mas,pas di banten timingnya gak tepat :mrgreen:

    Suka

  3. anharvictor berkata:

    makin asik ney turingnya…
    Kang… Sekalian estimasi biaya waktu perjalanan habis brp… Atau bisa buat artikel kalkulasi buayanyakang…

    Suka

  4. touringrider berkata:

    alhamdulillah…

    Suka

  5. bruangmontoq berkata:

    Merinding baca yg ini..
    Salut kang..
    Four thumbs up..

    *2 lagi minjem jempol codel :p

    Suka

  6. kang maman berkata:

    kang ulid reportnya dong mengenai tunggangannya si ge black xcd 125. Gmana selama di pake di perjalanan. Enak gak make xcd selama touring terus konsumsi bbm nya gmana. Irit atau boros. Dan ada keluhan lain gak selama touring dgn xcd. Ditunggu reportnya kang ulid..karna saya ada rencana touring dgn xcd. Terimakasih

    Suka

Silahkan Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: