Mobilitas Sosial: Perubahan Standard Hidup Seringkali dengan Memaksakan Diri


Hmm…

Gerak sosial (Mobilitas sosial) adalah perubahan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan peran anggotanya. Misalnya, seorang pensiunan pegawai rendahan salah satu departemen beralih pekerjaan menjadi seorang pengusaha dan berhasil dengan gemilang.

social-mobility1

Contoh lain, seorang anak pengusaha ingin mengikuti jejak ayahnya yang berhasil. Ia melakukan investasi di suatu bidang yang berbeda dengan ayahnya. Namun, ia gagal dan akhirnya jatuh miskin. Proses perpindahan posisi atau status sosial yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam struktur sosial masyarakat inilah yang disebut gerak sosial atau mobilitas sosial (Sumber: wikipedia).

Salah satu cara untuk melakukan mobilitas sosial adalah dengan mengubah standard hidup. Kenaikan penghasilan tidak menaikan status secara otomatis, melainkan akan mereflesikan suatu standar hidup yang lebih tinggi. Ini akan memengaruhi peningkatan status.

Contoh: Seorang pegawai rendahan, karena keberhasilan dan prestasinya diberikan kenaikan pangkat menjadi Menejer, sehingga tingkat pendapatannya naik. Status sosialnya di masyarakat tidak dapat dikatakan naik apabila ia tidak mengubah standar hidupnya, misalnya jika dia memutuskan untuk tetap hidup sederhana seperti ketika ia menjadi pegawai rendahan.

Terkait dengan mobilitas inilah, maka banyak sekali orang yang memaksakan diri. Mereka kurang memperhatikan kemampuan diri, sehingga kebablasan. Gaya hidup yang tidak sesuai kemampuan banyak terjadi.

Karena hal itulah maka banyak yang mengunakan jalan pintas. Misalnya maraknya pelacur (maaf) dikalangan pelajar. Rata-rata mereka melakukan itu untuk menaikkan standard hidup mereka yang diluar kemampuan wajar. Misalnya lagi korupsi. Misalnya lagi dengan membeli togel. Misalnya lagi dengan pergi ke dukun.

Padahal ini memusingkan diri sendiri. Padahal ini me-ruwet-kan keadaan. Padahal ini memperumit keadaan. Namun, demi naiknya status sosial mereka di masyarakat, mereka rela untuk itu.

Sering kali, indikator perubahan standard hidup mereka adalah kendaraan yang mereka miliki. Orang yang mempunyai motor bebek seharga belasan juta, dengan yang punya motor seharga 50an juta, tentu status sosialnya berbeda di mata masyarakat. Banyak yang memaksakan diri untuk itu membeli motor seharga 50jutaan, padahal gajinya hanya 2jutaan/bulan. Sangat memaksakan diri.

Seharusnya mobilitas sosial terjadi tanpa perlu memaksakan diri, itu adlaah yang terbaik. Okay!

 

Artikel Terkait:

Iklan

2 Responses to Mobilitas Sosial: Perubahan Standard Hidup Seringkali dengan Memaksakan Diri

  1. Maskur berkata:

    mmm… kebetulan bau saja ngobrol dengan teman antara orang yang agak berpikiran intelek sama yang enggak.
    teman2 lama banyak yang sukses secara ekonomi, bisnis jalan, mobil bagus, cuma kok perilaku di dunia maya bisa disebut “ndeso”
    kadang juga termakan gengsi
    —————————————————-

    wah perkembangan nih kang Ulid, artikelnya berbobot semua sekarang….
    bagus nih….
    yah kalo ngejar hit apa komentar yang ginian biasanya “kurang laku”
    sekedar saran, artikel begini, kalo misal blogwalking harus ke blog-blog non-otomotif, tapi biasanya mereka minta tukar link hehehhe…
    sst kalo bisa jangan panjang2, sekarang orang buka blog cuma sambil lalu, baca judul lalu pergi sambil ninggal link..
    bukan2 apa2..maklum blog makin banyak, makin butuh waktu untuk mengunjungi semua

    lanjutkan

    Suka

Silahkan Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: