Dari Taksonomi Bloom ke TBRA.


Ada hal menarik yang baru saya ketahui ketika mengikuti short course di Monash University yaitu Anderson adalah murid dari Bloom. Ampun dah, saya benar-benar kuper. Masak, hal se-mendasar ini baru disadari. Jauh-jauh ke negeri kanguru hanya untuk tau bahwa Anderson adalah murid bloom.

Namun, iu benar adanya. Saya baru tahu ketika di sana. Ketika ikut short course di Monash University. Saya ga mau menutup-nutupi hal itu. Lah, memang sebelumnya ga tau kok. Ya, Alhamdulillah sekarang sudah tahu. Hehehe.

Kata Prof. Gillian Kidman, perbedaan antara taksonomi bloom dengan taksonomi bloom revisi Anderson (eh, kok penyebutannya ga enak ya, biar enak kita sebut TBRA). Taksonomi bloom beraliran behaviorisme, Nouns- categories of ways of thinking; types of thinking. Bloom’s hierarchy is (low to high) knowledge-comprehension-application-analysis-synthesis-evaluation. Sementara TBRA beraliran constructivisme, action verbs – what the student must do to demonstrate learning; goals of thinking primary, secondary and tertiary. The hierarchy is (low to high) remember-understand-apply-analyze-evaluate-create.

Saat ini, di Indonesia, Higher Order Thinking Skills (HOTS) mengacu pada TBRA. Artinya apa? Ini berarti bahwa kurikulum kita beraliran konstruktivisme. Sederhananya, kita bongkar pengetahuan awal siswa, lantas kita susun kembali sesuai dengan kaidah yang berlaku.

Penggunaan taksonomi itu sendiri bisa dilihat dalam kompetensi dasar pada tiap mata pelajaran. Di sana ada KKO (kata kerja operasional) yang merupakan perluasan/penjabaran dari tiap hierarki pada TBRA.

Selain hierarki/tingkatan/level, pada TBRA juga mengenal adanya dimensi pengetahuan yang terdiri dari faktual-konseptual-prosedural-metakognitif. Dimensi pengetahuan ini bisa juga disebut kedalaman berpikir. Dan ini juga mempengaruhi HOTS atau tidak. Misalnya begini, tingkatannya Remembering tapi dimensi pengetahuan yang dibangun adalah metakognitif, maka ini bisa berarti sudah HOTS. Makanya, dalam penggambaran hierarki TBRA pasti berbentuk segtiga 3 dimensi Beda dengan taksonomi bloom ya g berbentuk segitiga 2 dimensi.

Namun di Indonesia ini kontradiktif. Mengapa? Karena dalam buku panduan yang beredar ditegaskan bahwa HOTS itu harus c4 ke atas alias harus di tingkatan analyze-evaluate-create. Dan saya sarankan agar guru ketika membuat RPP mengacu pada ini. Agar tidak bermasalah dengan pengawas, hehehee.

Loh, ga terasa kok banyak banget nulisnya. Makanya tangan berasa keriting. Sudah dulu ah. Kita sambung besok, masih pada seri HOTS. Aseeek.

Iklan

2 Responses to Dari Taksonomi Bloom ke TBRA.

  1. suzanwo75 berkata:

    Alhamdulillah kalau pada akhirnya sang guru sejarah bisa menggali sejarah hubungan Bloom dan Anderson

    Suka

Tinggalkan Balasan ke kang_ulid Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: