Balada Gado-gado: sebuah kisah gado-gado


Gado-gado.

Merupakan makanan khas dari Betawi. Campuran antara lontong, kecambah, tahu, telor, sayuran, kentang, dan emping mlinjo yang dibaluri bumbu kacang. Yummi. Betapa makanan ini menggugah selera.

Setelah dua minggu berada di Melbourne, akhirnya saya menemukan makanan ini. Berada di sebuah warung di dekat Queen Victoria Market. Dan saya tidak perlu menjelaskan lebih lanjut, mengapa berada di Queen Victoria Market, hehehhe.

Namanya Pondok Rempah. Berada di sebelah barat Queen Victoria Market. Atau tepatnya berada di Elizabeth st. Warung ini menyediakan berbagai macam makanan khas Nusantara. Rasanya pun enak. Dan harganya pun juga murah (bagi orang Australia, hehehe).

Gado-gado mengingatkan ku akan Queen Victoria Market, Melbourne, Monash University, Quest, Prof. Gillian, Dr. Hazel Tan, Dr. Roland, Mr. Hakim, Mrs. Nurul dan tentu saja guru-guru hebat yang ikut short course ke Monash University. Pengalaman-pengalaman luar biasa itu menyeruak kembali kepermukaan.

Bagaimana serunya pelatihan, seharian pun tak terasa. Bagaimana serunya ketika harus membiasakan diri dengan pola hidup di sana. Bagaimana serunya menikmati cuaca di sana. Ketika orang sana pakai baju tipis karena kepanasan, kita malah sibuk pakai jaket karena kedinginan. Belum lagi tentang kedisplinan yang luar biasa itu. Dan banyak lagi keseruan lainnya.

O iya, terkait pelatihan HOTS yang saya ikuti. Menarik menyadari bahwa ketika di sana sibuk mencari cara agar pembelajaran HOTS bisa terlaksana dengan baik, di sini masih sibuk terkait konsep HOTS. Maksudnya, di sini, banyak pelatihan (yang saya ikuti) masih menjelaskan konsep HOTS, konsep taksonomi bloom, format RPP, Format penilaian, dll. Padahal tidak semuanya applicable. Kebanyakan hanya sebatas administratif ketika ada supervisi saja.

Bukannya apriori terhadap pelatihan di sini. Atau mentang-mentang sudah ke luar negeri terus sok. Lah saya sendiri pernah menulis tentang ini tahun 2014 loh (klik di sini).

Sebentar, sebentar, lah kok malah bahas lainnya, kan kita sedang bahas gado-gado?! Ah, namanya juga gado-gado. Ya, campur-campur. Hehehe.

Selamat menikmati.

2 Responses to Balada Gado-gado: sebuah kisah gado-gado

  1. suzanwo75 berkata:

    Filosophi gado-gado, walau terbuat dari macam-macam bahan sayuran, namun rasanya tidak dominan dan tidak menunjukkan suatu bentuk sayurannya lebih besar dari yang lain…. Walaupun kerupuk berada di atasnya, justru bukan berarti si kerupuk sebagai pemimpin, tetapi sebagai pelengkap.
    Tunggu tulusan saya tentang filosopi gado-gado ya bro

    Suka

Silahkan Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: