Situbondo memilih: ketegangan mulai muncul

09/12/2015

Meneruskan artikel sebelumnya (pertarungan 3 kyai besar).
Hari ini sangat mendebarkan. Entah mengapa sayapun terbawa suasana. Padahal saya bukan tim pemenangan dari salah satu paslon loh. Bahkan alam pun mencoba berdamai dengan memberikan suhu di bawah rata-rata. Sejuk. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Seri Sejarah: Peta Politik Jawa Timur pada Pemilu 1955,

30/08/2013

Ini merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Republik Indonesia baru berusia 10 tahun. Kalau dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi, apakah berarti selama 10 tahun itu Indonesia benar-benar tidak demokratis? Tidak mudah juga menjawab pertanyaan tersebut.

Pemilu pertama dilaksanakan pada tahun 1955. Patut dicatat dan dibanggakan bahwa pemilu kali tersebut berhasil diselenggarakan dengan aman, lancar, jujur dan adil serta sangat demokratis. Pemilu 1955 bahkan mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk dari negara-negara asing. Pemilu ini diikuti oleh lebih 30-an partai politik dan lebih dari seratus daftar kumpulan dan calon perorangan.

Hal yang sama terjadi di Jawa Timur yang notabene adalah wilayah kaum santri, akan tetapi hasil Pemilu 1955 menunjukkan keseimbangan antara kekuatan politik santri (tradisional/NU dan modernis/Masyumi) dengan kekuatan politik sekuler (PNI dan PKI). Mengutip hasil penelitian Herbert Feith (dalam Suara Merdeka, 1 Desember 2003), Pemilu 1955 di Jawa Timur menunjukkan konfigurasi kekuatan politik, yakni dari 6 wilayah karesidenan di Jatim (tak ada data mengenai hasil pemilu di Karesidenan Malang)[1], partai sekuler unggul tipis dibanding dengan partai agama.

Di Karesidenan Besuki, Partai NU mendapat dukungan 699.000 suara, Masyumi 150.000, PNI 380.000, dan PKI 232.000. Di Karesidenan Madura, Partai NU 59.000 suara, Masyumi 134.000, PNI 88.000, dan PKI 3.000. Di Karesidenan Surabaya, Partai NU 431.000 suara, Masyumi 117.000, PNI 265.000, dan PKI 231.000. Di Karesidenan Kediri, Partai NU dapat 366.000 suara, Masyumi 155.000, PNI 455.000, dan PKI 457.000.

Kemudian di Karesidenan Madiun, Partai NU memperoleh 92.000 suara, Masyumi 137.000, PNI 254.000, dan PKI 447.000. Di Karesidenan Bojonegoro, Partai NU meraih dukungan 131.000 suara, Masyumi 300.000, PNI 155.000, dan PKI 289.000. Menurut Feith, hasil keseluruhan perolehan suara di Pemilu 1955 untuk Partai NU 3.370.554 suara, Masyumi 1.109.742, PNI 2.251.069, dan PKI 2.299.602.

 

Hasil Pemilu 1955 menunjukkan, di wilayah Karesidenan Kediri dan Madiun, PKI unggul dibanding dengan ketiga partai lainnya. Adapun Partai NU unggul mutlak di Karesidenan Besuki. Partai kaum Islam modernis, Masyumi, hanya unggul di wilayah Karesidenan Bojonegoro. Meski demikian, di Karesidenan Bojonegoro, suara yang didapat PKI juga cukup tinggi, yakni 289.000 suara, hampir menyamai perolehan suara Masyumi, yakni 300.000 suara.

Akumulasi suara yang diperoleh Partai NU dengan Masyumi di Jatim pada Pemilu 1955 adalah 4.480.289 suara. Adapun gabungan suara yang diperoleh PNI dengan PKI yaitu 4.550.671 suara. Dengan demikian, partai berhaluan nasionalis-sekuler unggul tipis vis a vis partai agama. Ketika itu, baik NU maupun Masyumi menjadikan Islam sebagai basis ideologi dan dasar partai mereka.

 

Tabel : Peta Politik Empat Partai Pemenang Pemilu 1955 Di Jawa Timur

 

No.

Keresidenan di Jawa Timur*

Partai

Jumlah

Partai NU

Masyumi

PNI

PKI

1 Besuki

699.000

150.000

380.000

232.000

1.461.000

2 Madura

59.000

134.000

88.000

3.000

284.000

3 Surabaya

431.000

117.000

265.000

231.000

1.044.000

4 Kediri

366.000

155.000

455.000

457.000

1.433.000

5 Madiun

92.000

137.000

254.000

447.000

930.000

6 Bojonegoro

131.000

300.000

155.000

289.000

875.000

Jumlah

1.778.000

993.000

1.597.000

1.659.000

6.027.000

Sumber: Herbert Feith dalam Suara Merdeka, 1 Desember 2003

*)   Tidak ada data mengenai hasil pemilu di Keresidenan Malang


 


%d blogger menyukai ini: