Suluk Linglung: Bramara Ngisep Sari, Pupuh I Dhandhanggula


Hmm…
Sejarah membuktikan bahwa Islam masuk ke nusantara dengan jalur damai. Diawali dengan interaksi antar pedagang, lambat laun, Islam masuk ke kehidupan masyarakat nusantara. Selanjutnya, Islam disebarkan ke seantero negeri.
Di pulau Jawa sendiri, ada 9 wali (sebenarnya sangat banyak loh) yang secara estafet menyebarkan agama Islam. Mereka tetap menggunakan jalan damai. Akulturasi budaya pun terjadi. Tak terkecuali Sunan Kalijaga. Beliau pun menggunakan cara-cara damai dalam menyebarkan Islam.
Nah, kali ini saya akan membeberkan salah satu ajaran/wejangan Sunan Kalijaga (syeh Melaya) yang berupa tembang macapat. Suluk Linglung namanya. Namun, tentunya secara bertahap.
Mari kita kaji bersama-sama!

BRAMARA NGISEP SARI
(KUMBANG MENGHISAP MADU)
PUPUH I
DHANDHANGGULA

Episode I : Sunan Kalijaga berhasrat  besar mencari ilmu yang menjadi pegangan para Nabi Wali, ibaratnya kumbang ingin menghisap madu / sari kembang.
1. Jumadilawwal puruning nulis, Isnen Kliwon tanggal ping pisan, tahun Je mangsa destone, nenggih sengkalanipun, “Ngerasa sirna sarira Ji”, turunan saking kitab, Duryat kang linusur, sampun kirang pangaksama, ingkang maca kitab niki sampun kenging, kula den apuntena.
Bulan Jumadilawwal mulai menarikan pena, Senin Kliwon tanggal pertama, tahun Je saat orang menuai padi, prasasti penulisan, “Ngerasa sirna sarira Ji”, disadur dari buku Duryat yang masyhur, maka mohon pengertiannya, bagi pembaca buku ini agar sudi, memberikan maaf.
2. Pawartane pandhita linuwih, ingkang sampun saget sami pejah, pejah sajroning uripe, sanget kepenginipun, pawartane kang sampun urip, marma ngelampahi kesah, tan unigeng luput, anderpati tan katedah, warta ingkang kagem para Nabi Wali, mila wangsul kewala.
Syahban kisah seorang Alim Ulama yang cerdik pandai, yang sudah dapat merasakan mati, mati di dalam hidup, besar keinginannya, memperoleh petunjuk dari seorang yang sudah menemukan hakikat kehidupan, yang menyebabkannya melakukan perjalanan, tidak mempedulikan dampak yang terjadi, bernafsu sekali karena belum memperoleh petunjuk, petunjuk yang dipegang para Nabi Wali, itulah tujuan yang diharapkan semata-mata.
3. Ling lang  ling  lung sinambi angabdi, saking datan amawi sabala, kabeka dene nafsune, marmannya datan kerup, dennya amrih wekasing urip, dadya napsu ingobat, kabanjur kalantur, eca dhaharlawan nendra, saking tyas awon perang lan nepsu neki, sumendhe kersaning Hyang.
Ling lang ling lung (hati bimbang pikir bingung) masih tetap mengabdi, walaupun tanpa ada yang membantu, selalu tergoda oleh nafsunya, karena tidak mampu mengatasinya, berbagai usaha ditempuh agar akhir hidupnya nanti, mampu mengatasi / mengobati nafsunya, jangan sampai terlanjur terlena, puas makan dan tidur, sebab hatinya kalah perang dengan nafsunya, hanya Allah tempat berserah diri.
4. Ling lang ling lung anedheng Hyang Widhi, mugi-mugi binuka Hyang Sukma, den legakna ing atine, sakayun yawunnipun, marga dadi sembah lan puji, saking telasing manah, pramila nenuwun, nanging tan apunten ing Hyang saking mboten saged nembah lawan muji, ngawur datan uninga.
Ling lang ling lung memohon kepada Tuhan Yang Terpilih, semoga dibukakan lah oleh Tuhan Pembuat Nyawa, sehingga terasa ditenteramkan hatinya, selaras dengan kehendak hatinya, jalan menuju sembah dan puji, dari keputusasaan hati, sehingga berdoa, tapi tidak mungkin dimaafkan oleh Tuhan, sebab tidak dapat beribadat dan bersyukur, acak-acakan tanpa disadarinya pengetahuan.
5. Ling lang ling lung pan kendel pribadi, tanpa rewang pan ucek-ucekan, yetukaran pada dewe, tan adoh swaranipun, pan gumrejeg padu tan enting, pan rebut kalah menang, tan ana rinebut, lir ngrebut prajeng Ngastina, lali kadhang miwah bapa anak rabbi, jiwa raga tan ketang.
Ling lang ling lung akhirnya diam sendiri, tanpa teman tetapi masih saja ada gejolak batin, saling bertengkar dengan dirinya sendiri, suaranya tidak lantah / jauh, tapi bukankah pertengkaran hebat itu tidak akan ada henti-hentinya? Bukankah saling merebut kemenangan? padahal tidak ada yang disebutkan! Kalau diibaratkan seperti perebutan Kerajaan Ngastina, sehingga lupa saudara bapak anak istri, jiwa raga pun tidak dihitung.
6. Ling lang ling lung tan weruh ing isin, saking kedah uningeng ing warta, sinahu tapa lan luwe, yen ana kanca rawuh, melu mangan pan datan eling yen mungkur kancanira, tan mangan saumur, saking tan ana pinangan, ling lang ling lung angon paesan pribadi, tansahnagih buruhan.
Ling lang ling lung tak tahu malu, karena didesak, oleh hasrat mengetahui petunjuk, akhirnya diusahakan mampu bertapa dan berlapar-lapar, kalau ada teman datang, ikut makan dengan rakusnya, kalau temannya pergi, tidak makan seumur hidupnya, sebab tidak ada yang dimakan, ling lang ling lung menuruti  kesenangan memperindah diri, selalu meminta upah.
7. Ling lang ling lung tan olih, anenagih ngrejeg tanpo potang, kang tinagih meneng bae, pan nyata nora nyambut, kang anagih awira -wiri, tan ana beda nira, Syeh Malaya iku, wit puruhita atapa, mring Jeng Sunan Benang kinen tengga kang cis,tan kena yen kesaha.
Ling lang ling lung meminta upah tiada hasil, menagih tak henti-hentinya tanpa piutang, yang ditagih diam saja memang kenyataannya tidak berhutang, yang menagih datang pergi, semua itu tidak bedanya, dengan Syeh Melaya sendiri, di saat mulai berguru dan bertapa, kepada Kanjeng Sunan Bonang diperintahkan menunggui tongkat, dan dilarang meninggalkan tempat.
8. Ling lang ling lung pan sang mendha luwih, buda teja tequde sarira, upamakken ing sanise, wonten sujalma luhung, putra Tuban Rahaden Syahid, duk sepuh nama Sunan, Kalijaga sampun, langkung sinihan Hyang Sukma, ingkang sampun dadi  keramating Hyang Widhi, Mijil saking asmara.
Ling lang ling lung bukankah dapat dikatakan orang hebat, keinginannya yang kuat serta tekad batinnya, bila dibandingkan dengan yang lainnya, ada manusia berdarah luhur, putra Tuban Rahaden Syahid, waktu tua bergelar Sunan Kalijaga, rupanya sudah lebih dulu mendapat anugerah Kasih Sayang Tuhan Allah Pencipta Nyawa yang sudah menjadi kemuliaan Tuhan Yang Terpilih, keluar dari kasih Sayang Allah (Mahabbatullah).

—————————————-
….. Bersambung minggu depan ……

contact me on…
twitter:kang_ulid
fb : https://m.facebook.com/ahmad.maulidi.xcders.dbmc?v=info&refid=17
email : ahmad.maulidi@gmail.com

Iklan

Silahkan Komen

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: